Bintang Deska Seseorang yang suka berselancar di dunia digital dan belajar hal-hal yang baru.

Ranu Kumbolo, Surga Gunung Semeru yang Menakjubkan!

10 min read

pendakian ranu kumbolo

Ranu Kumbolo – Hai sobat, di postingan ini saya akan membagikan pengalaman yang cukup epic yang bisa menginspirasi kalian untuk turut menikmati dan melestarikan keindahan alam yang ada di Indonesia tercinta kita ini.

Mungkin kalian tidak asing dengan lokasi yang satu ini, Ranu Kumbolo. Danau yang terletak di bawah kaki gunung Semeru ini merupakan salah satu daya tarik untuk wisatawan lokal maupun asing.

Bahkan saking banyaknya pendaki yang ingin kesana, kuota harian untuk masuk ke Ranu Kumbolo pun dibatasi. Danau ini menyimpan kisah-kisah unik dan misterius yang membuat orang semakin penasaran untuk turut menjadi bagian dalam kisahnya.

Langsung aja yuk disimak cerita lengkapnya.

Pengenalan Ranu Kumbolo

pendakian ranu kumbolo
sumber: pegipegi.com, by Nadia Latief

Ranu Kumbolo berasal dari dua kata, yaitu Ranu (yang artinya Danau) dan Kumbolo. Sehingga Ranu Kumbolo biasa disebut juga Danau Kumbolo. Danau ini terletak di Pegunungan Tengger, tepatnya di kaki gunung Semeru dengan luas kurang lebih 15 hektare.

Danau yang berada di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini menjadi tempat pemberhentian bagi para pendaki Semeru. Keindahan yang disuguhkan danau ini serta letaknya yang diapit oleh beberapa bukit, menjadi daya tarik sendiri bagi sebagian orang.

Meskipun suhu di Ranu Kumbolo bisa dikatakan cukup dingin, terutama di malam hari, akan tetapi hal ini tidak sedikitpun membuat para pendaki mengurungkan niatnya untuk singgah di danau ini.

Bahkan tidak sedikit para pendaki yang bermalam di tepi danau yang sering disebut sebagai surga Semeru ini.

Dengan segudang keindahan alam yang disuguhkan, rupanya danau ini juga memiliki mitos-mitos misterius dari ciutan para pendaki yang telah berhasil menaklukannya. Mulai dari air danau yang suci, Tanjakan Cinta, hingga dewi penunggu Ranu Kumbolo.

Persiapan Pendakian dan Rute Menuju Ranu Pani

ranu kumbolo surga semeru
sumber: pexels.com, by alex andrews

Saat itu lagi musim liburan akhir semester. Yah meskipun kami udah masuk ke semester 9, tapi kami tergolong mahasiswa basi baru kok (MABA), haha.

Jadi ceritanya saat kuliah dulu saya punya grup tongkrongan nih, namanya HIMAWARKOP (Himpunan Mahasiswa Warung Kopi) XD. Biasanya kalo musim-musim libur gitu, temen-temen pada ngajakin untuk eksplorasi beberapa destinasi wisata di Malang.

Oh ya untuk temen-temen yang baru pertama kali di Malang, sedikit bocoran kalo di Malang sendiri (Malang Kota), destinasi wisata alamnya sedikit banget. Kebanyakan mahasiswa kalau sedang musim libur pada ke Kabupaten Malang.

Banyak banget dah kalau di Kabupaten Malang. Mulai dari Coban Pelangi, Pulau Sempu, Goa China, dan masih banyak lagi. Kalau mau cari referensi tempat wisata di area Malang dan sekitarnya bisa cek disini.

Back to the topic.

Untuk persiapan pendakiannya sendiri tergolong cukup rempong. Kami tidak bisa serta merta langsung melakukan pendakian saat itu juga. Butuh persiapan fisik dan mental juga lho.

Jangan sampai dah ketika naik gunung, ditengah perjalanan malah minta balik karena udah gak kuat, haha.

Selain fisik dan mental, kami juga perlu menyiapkan kebutuhan logistik, sob. Tenang, gak perlu repot-repot kok beli peralatan seperti tenda, kompor, sleeping bag, dll. Karena di area Malang pun udah banyak menyediakan.

Untuk sewa tendanya sendiri harganya berkisar antara 30.000–40.000/hari, sleeping bag hanya 5.000, dan kompor kurang lebih hanya 10.000, dll. Intinya harga sewanya cukup terjangkau bagi kantong mahasiswa seperti saya ini. Daripada beli semua kan bisa jebol kantong, haha.

Untuk info penyewaan peralatan camping di Malang bisa googling aja, banyak kok. Tinggal ketik kata kunci “sewa peralatan camping malang”.

Oh ya, kalo mau sewa tenda, sewa yang cukup besar aja sekalian. Contoh untuk 4 orang pendaki, nah sewa tendanya yang muat untuk 6 orang. Kelebihan space nya buat naruh barang bawaan dan biar ga sempit aja sih.

Kan gak nyaman kalo dalam satu tenda kami gak bisa selonjoran kakinya. Disesuaikan aja dengan barang bawaan.

Karena Gunung Semeru ini memiliki daya tarik yang kuat banget, kuota pendakinya pun dibatasi, hanya 300 pendaki per hari. Kalau lagi high seasons bisa booking dulu jauh-jauh hari sebelum mendaki.

Ini untuk antisipasi aja sih kalau pas kuotanya penuh, terpaksa temen-temen harus bermalam di Ranu Pani dulu, baru besoknya bisa naik. Untuk booking-nya bisa disini.

Ternyata hanya ada empat anggota HIMAWARKOP (termasuk saya) yang minat hiking, yang lainnya pada sok sibuk, jadi kami sewa tenda dengan kapasitas 6 orang.

Temen-temen yang mau ke Ranu Kumbolo, gak perlu khawatir kekurangan logistik saat mendaki. Di Ranu Pani masih banyak kok warung-warung. Apalagi di setiap pos pendakian pasti ada orang jualannya.

Tapi inget, cuma siang hari lho ya.

Setelah persiapan matang, mulai dari tas gunung, jaket tebel, kompor, logistik, dll, kami berempat pun langsung tancap gas ke desa Ranu Pani dengan dua buah sepeda motor.

Info Transportasi Menuju Ranu Pani

transportasi ranu kumbolo
sumber: muhdhito.me

Untuk menuju desa Ranu Pani, bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum.

Cara ke Ranu Pani dari Malang Kota dengan angkutan umum:

  1. Dari stasiun Malang bisa naik angkot ke pasar Tumpang
  2. Di pasar Tumpang nantinya akan di cek persyaratan pendakiannya
  3. Setelah persyaratan siap, bisa lanjut naik jeep ke Ranu Pani
  4. Perjalanan menuju Ranu pani sekitar ±1 jam dari pasar Tumpang.

Untuk harga sewa satu jeep sekitar Rp 650.000,-. Maksimum satu jeep muat untuk 12 orang penumpang.

Jadi kalau kalian mau tunggu hingga jeep terisi penuh, kalian hanya merogoh kocek hanya Rp 55.000,-/orang. Kalau mau jeep-nya langsung tancap gas, tinggal di carter aja ya.

Persyaratan mendaki Gunung Semeru:

  1. Mengisi formulir pendakian yang teletak di pasar Tumpang/Ranu Pani dengan materai Rp 6000,-
  2. Wajib membawa surat keterangan sehat, bisa dari dokter/Puskesmas
  3. Fotokopi KTP atau SIM atau Pasport sebanyak 3x
  4. Fotokopi formulir pendakian 3x
  5. Membayar tiket masuk
  6. Membawa perlengkapan untuk pendakian
  7. WAJIB mengikuti briefing di Ranu Pani sebelum mendaki

Sekedar informasi aja nih sob, tarif pendakian gunung Semeru ini di hitungnya permalam, bukan per masuk ya. Untuk tarif lokalnya Rp 17.500,-/malam, weekend Rp 22.500,-/malam.

Sedangkan untuk turis mancanegara lebih muahal banget, Rp 207.000,-. Dan untuk weekend Rp 307.500,-. Gila gak tuh?! Hampir 100 kali lipat, haha.

Baca Juga : Pengalaman Nyantri di Sintesa dengan Modal Nekat

Kejadian Tidak Terduga di Perjalanan

ranu kumbolo
sumber: rumahhaywa.wordpress.com

Karena berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor roda dua, satu manual dan satunya lagi matic.

Niatnya sih berangkatnya subuh dari Kota Malang. Tapi karena pada bangun kesiangan, akhirnya kami baru berangkat pukul 09.00 WIB. Namanya juga niat, ngumpulinnya aja susah, apalagi jalanin niatnya, haha.

Di perjalanan, kami sempetin untuk mampir ke minimarket. Tujuannya untuk ngosongin perut dulu. Istilah kerennya, numpang ninggalin jejak xD.

Tips ini bisa di coba lho. Kan ga lucu, baru mau mendaki, ehh perut malah gak bisa diajak kompromi.

Setelah plong perut, langsung dah tancap gas.

Nah ini alasan kami kenapa lebih memilih naik sepeda motor. Jadi gunung Semeru itu rutenya searah dengan rute gunung Bromo.

Sepanjang jalan itu kami disuguhkan dengan panorama alam yang saking bagusnya, bikin kami speechless. Bener-bener mata kami di manjakan dengan berbagai keindahan alamnya, keasrian desanya, hingga keramahan penduduk Tengger-nya.

Rasa kagum dan takut pun campur aduk menjadi satu tatkala mata ini dimanjakan dengan susunan bukit-bukit yang membentang di sepanjang jalan menuju Ranu Pani, sembari mengucap masyaAllah di dalam hati yang keras ini.

Kenapa saya bilang terdapat juga rasa takut di hati ini? Gimana gak takut, wong di samping kanan dan kiri isinya jurang semua. Salah-salah bisa masuk jurang tuh, haha.

Belum lagi biasanya kalo musim hujan ada kabut tebel, makin serem deh perjalanannya. Tapi di jamin seru banget. Yang terpenting selalu berdoa ya disepanjang jalan.

Setelah perjalanan datar yang cukup melelahkan namun berkesan karena suguhan alam terhadap tamunya yang berkunjung, tibalah kami di suatu jalanan yang cukup menanjak.

Sumpah lemes banget saat menyusuri jalanan yang menanjak, ternyata sepeda kami pada gak kuat nanjak. Mana Ranu Pani masih jauh banget dan juga barang bawaannya buerat, lengkap sudah.

Bisa dibayangin kan, bawa tas gunung dengan isi penuh beserta peralatan camping, plus menyusuri jalanan menanjak, wah ini mah namanya belum perang udah kalah duluan.

Eitss, tapi kita gak menyerah begitu saja.

Setelah berunding, kita putusin untuk lanjut naik. Tapi kita gantian bawa sepedanya. Jadi nanti ada satu orang membawa peralatan camping beserta tas gunung. Nah peralatan tadi nantinya di angkut hingga beberapa ratus meter kedepan, lalu diturunin dipinggir jalan.

Setelah itu, dia balik lagi ketemennya yang masih tertinggal dibelakang untuk diboncengin. Jadi kan muatan sepeda motornya tambah ringan nih.

Dan it works.

Yah meskipun kadang juga sepedanya masih gak kuat jalan, meskipun gak ada barang bawaan di sepeda. Mungkin efek dari saya kali ya yang terlalu berat, haha.

Iya kami tau kok, cara itu ribet banget. Cuma saat itu, hanya itu ide yang ada di pikiran kami. Kami juga dikejar waktu, takutnya malah keburu malam sampai Ranu pani.

Tapi satu hal yang pasti. Kejadian tersebut bakal menjadi  salah satu hal yang cukup berkesan dalam cerita di perjalanan ini.

Bagaimana tidak? Lagi-lagi kita disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa disepanjang jalan dengan hanya kaki yang beralaskan sepatu gunung yang cukup tua ini.

Udara yang bersih, lingkungan yang asri, serta jalanan gunung yang masih alami membuat jiwa ini menyatu dengan indahnya alam sekitar.

Benar saja, kita tiba di desa Ranu Pani sore hari. Wah, mau gak mau kita bakalan naik gunung sebelum magrib nih. Tapi yaudahlah, daripada gak naik sama sekali.

Oh ya, bagi sobat yang membawa kendaraan pribadi, bisa dititipkan ke rumah penduduk sekitar kok. Nanti di Ranu Pani ada tempat penitipan sepeda motornya. Tenang aja, untuk biaya penitipannya bener-bener terjangkau kok.

Briefing

briefing ranu kumbolo
sumber: eanindya.com

Setelah menitipkan sepeda motor ke rumah penduduk sekitar, kami melanjutkan perjalanan menuju kantor untuk registrasi. Deket kok kantornya, sekitar 200 meter dari penitipan sepeda motor.

Jadi nanti disana diminta mengumpulkan formulir pendakian yang telah terisi tadi ke loket. Seinget saya sih kami disuruh ngisi formulir lain lagi (cuma saya lupa formulir apa, huhu). Oh ya, nanti juga dimintain salah satu KTP dari rombongan pendaki, buat jaminam.

Setelah administrasi udah beres, kita diarahkan menuju ruangan briefing. Cukup lama sih briefing-nya, kira-kira 45 menitan.

Berikut isi briefing yang masih saya ingat:

  • Jangan membuat api unggun di area gunung Semeru
  • Dilarang renang dan mencemari Ranu Kumbolo
  • Dilarang mengganggu habitat asli yang ada di gunung
  • Sampah WAJIB dibawa turun gunung
  • Harus mengikuti jalur pendakian yang sudah ditentukan (jangan sok-sokan cari jalan sendiri, nanti kesasar lho)
  • Bangun tenda di area Ranu Kumbolo yang telah ditentukan
  • WAJIB menyapa para pendaki lainnya ya (semua pendaki bersaudara)

BACA JUGA: Info Pantai Tiga Warna Malang Terbaru Lengkap

Pendakian ke Ranu Kumbolo

jalan ranu kumbolo
sumber: eanindya.com

Saatnya tancap gas menuju surga Semeru, yeay. Perlu diketahui, dari tempat briefing ke gerbang masuk gunung Semeru, butuh beberapa menit perjalanan, lho. Lumayan buat pemanasan sebelum mendaki gunung kan.

Nah untuk sobat yang gemar selfie, gerbang masuk ini merupakan salah satu spot yang bagus lho untuk ambil foto. Lumayan lah buat isi feed di Instagram, hehe.

Meskipun hari sudah menjelang senja, semangat kami masih bagaikan matahari yang baru terbit.

Udara yang masih bersih ditambah sahut-sahutan serangga diarea kaki gunung, membuat suasana alam semakin mengental. Di perjalanan, kita sering kali disambut pendaki lain yang terlebih dahulu telah menaklukkan Ranu Kumbolo.

Bahkan beberapa pendaki telah berhasil menaklukkan puncak tertinggi di pulau Jawa, Mahameru.

Keringat yang dibalut dengan tanah berpasir yang berada disekujur tubuh para pendaki ini seakan menunjukkan seberapa besar tekad mereka menaklukkan puncak tertinggi ini.

Dengan wajah senyuman yang hangat, para pendaki ini memberi kami semua motivasi untuk tetap semangat. Apalagi pendaki yang memberi semangatnya cantik, wah mau naik Ranu Kumbolo sepuluh kali pun kami ladenin, haha.

Rintik-rintik hujan pun mulai membasahi sekujur tubuh kami yang di balut jaket tebal.

Di tengah perjalanan, ternyata salah satu teman kami sudah tidak kuat lagi. Nafasnya pun sudah mulai tersengal-sengal, yang menunjukkan bahwa dia mulai kelelahan.

Perlahan staminanya menurun, dan mulai mengeluh tidak kuat melanjutkan perjalanan. Dia meminta kembali dan menyuruh tiga orang lainnya (termasuk saya) untuk melanjutkan perjalanannya.

Tentu saja kami menolak, masa mau meninggalkan teman sendiri di belakang? Apalagi hari sudah gelap, kalo ternyata dijalan ada hewan buas, bisa abis dilahap.

Beberapa saat kemudian, kami berunding dan memutuskan untuk membantu si doi membawakan tas gunungnya.

Dengan membopong tas gunung secara gantian, kami pun melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah ternyata si doi kuat melanjutkan. Dan sekarang giliran saya yang gak kuat, haha.

Intinya kalo berada di gunung, kita harus benar-benar saling menjaga. Kalau ada teman yang kelelahan, ya istirahat dulu aja. Berangkat bareng, pulang harus bareng.

Disini kita akan tahu watak karakter asli dari teman kita.

Beberapa ratus meter kemudian kita menemukan Pos 1. Ternyata beberapa pedagang sudah siap dengan barang dagangannya. Mulai dari gorengan, semangka, dan minuman penghangat lainnya pun di suguhkan disini.

Entah kenapa rasa buah semangka di pos-pos pendakian Ranu Kumbolo ini menjadi sangat nikmat, benar-benar nikmat. Rasanya beda banget dengan semangka yang biasanya kita makan, jauh lebih manis dan segar.

BACA JUGA: Blue Fire Ijen, Fenomena Alam Langka yang Hanya Ada Dua di Dunia!

Kejadian di Malam Hari

Matahari pun mulai menyembunyikan sinarnya. Hari pun mulai gelap. Jarak pandang mata kita yang terbatas, keadaan tanah yang basah, serta penerangan hanya dengan lampu handphone, membuat jalur pendakian semakin sulit dilintasi.

Sesaat kemudian, hujan pun turun.

Padahal kami sudah memakai jaket tebal, tapi dinginnya udara sekitar masih mampu menembus jaket yang kami kenakan. Belum lagi ditambah air hujan yang membuat udara sekitar menjadi jauh lebih dingin.

Panggilan alam pun berdering, setoran udah gak bisa ditunda lagi. Udah kebelet banget, kayaknya efek dari udara dingin.

Meskipun di beberapa pos sudah disediakan toilet (kadang gak ada airnya), tapi kadang kita kebeletnya pas di tengah jalan menuju pos selanjutnya. Ya akhirnya mau gak mau hanya ada dua cara untuk setoran, gali lubang atau kencing dibotol.

Kami sih lebih memilih opsi kedua, haha.

Lah gimana bisa mau gali lubang, orang ditengah jalan menuju pos selanjutnya itu hanya jalan setapak. Belum lagi ditambah gelapnya malam yang semakin pekat.

Mau gak mau sih kencing dibotol. Tapi kalau kalian melakukan ini, botolnya WAJIB di bawa ya, nanti kalau sudah sampai di Ranu Kumbolo bisa di cuci, lalu dibawa turun gunung.

Setelah berjalan beberapa jam, beberapa diantara kami kelelahan. Waktu itu menunjukkan pukul 21.00 WIB, dan kami baru menaklukkan setengah dari perjalanan menuju Ranu Kumbolo.

Kenapa bisa lama banget? Pertama kami mengimbangi kemampuan dari masing- masing orang. Kedua Jalanannya becek yang memperlambat perjalanan kami.

Normalnya sih jarak tempuhnya kurang lebih 4 jam perjalanan dengan jarak Ranu Pani ke Ranu Kumbolo sekitar 12km.

Tapi gak apa-apa lah, yang penting masih bisa ngejar sunrise.

Brukk.

Tiba-tiba salah satu anggota kami ambruk. Ternyata gegara jalanan yang licin menyebabkan sandal gunungnya selip.

Gilanya lagi, ambruknya pas waktu ada tanjakan yang cukup tinggi, dan kalau dia gak pegangan ke salah satu pohon, bisa jadi dia udah jatuh kejurang. Kanan itu tebing, dan kiri udah jurang.

Sekarang masalahnya, gimana caranya dia bisa kembali keposisi semula. Kalau dia salah langkah, udah dipastikan jatuh tuh.

Alhamdulillah kita masih dilindungi oleh Allah. Perlahan salah satu anggota kami yang lain pun turun untuk menariknya. Fuihh, sumpah deg-degan. Ngilu dikaki juga kalo bayangin jatuh ke jurang.

Beberapa saat menit kemudian kami pun tiba di Pos ke 3, setelah sebelumnya lanjut dari Pos 2 tanpa istirahat.

Kembali kami berunding, apakah mau istirahat dulu atau langsung lanjut. Di karenakan beberapa faktor alam yang susah untuk ditoleransi, yaitu hujan. Kami pun mengurungkan niat kami untuk melanjutkan pendakian.

Kami memilih Pos 3 sebagai tempat peristirahatan kami sembari memulihkan tenaga kami. Sleeping Bag pun kami gelar saling berjejaran. Meskipun udara dingin menembus tebalnya jaket ini, kami paksakan untuk tidur dengan nyaman.

Esok harinya setelah subuh, kami lanjutkan perjalanan menuju tujuan kami sebenarnya, Danau Kumbolo.

Sinar bintang ditambah hembusan angin bersama sinar lampu handphone, menemani kami dalam setiap langkah.

Beberapa menit kemudian, kami tiba di Pos 4. Lokasi terakhir yang mana kita bisa melihat langsung indahnya Ranu Kumbolo dari bukit yang cukup tinggi.

Terlihat dari kejauhan betapa kecilnya para pendaki yang terlebih dahulu tiba ditepi danau, yang menunjukkan seberapa tingginya bukit yang kita pijakin ini.

Tanpa mengulur waktu lagi, kami bergegas menuju tepi danau. Perjalanannya pun cukup sulit, sob. Kita harus melalui bukit yang terjal untuk bisa mengakses ke tepi danau.

Dan alhamdulillah akhirnya kami sampai juga ke tepian.

Nah ada hal lucu yang terjadi disini. Jadi kita udah bangun tenda nih tepat beberapa puluh meter dari bukit terjal yang kita lewati tadi.

Berharap bisa melihat sunrise yang terbit dari bukit sebelah. Nah konyolnya, ternyata kita salah lokasi. Spot yang ditentukan untuk membangun tenda bukan dilokasi yang kita pijak, tapi ada disisi sebelahnya lagi dari tepi Ranu Kumbolo, haha.

Akhirnya hanya sebagian sinar matahari saja yang terlihat ketika sunrise. Rasa kecewa juga ada sih. Susah-susah mendaki, sunrise yang didapatin nanggung pula, haha.

Oh ya di Ranu Kumbolo ada namanya Tanjakan Cinta. Jadi mitosnya, kalo mendaki tanjakan ini, dilarang menengok kebelakang. Kalo melanggar, mengakibatkan putus cinta lho, haha.

Itu cuma mitos, saya sih gak begitu percaya, haha.

Dari tepi danau, terlihat kabut-kabut yang berjalan mengarah ke tenda-tenda para pendaki. Jernihnya danau dan rapihnya susunan bukit-bukit didepan danau, seakan menjadi pijat alami untuk mata dan fikiran.

ranu kumbolo semeru
sumber: eanindya.com

Oh ya, beberapa waktu lalu ada himbauan dari pengurus setempat untuk tidak menggunakan motor matic kalo mau ke Bromo ataupun Gunung Semeru, karena sudah banyak yang tewas akibat motor blong remnya. Hii serem kan. Lebih baik cari amannya aja sih, dan juga jangan lupa berdoa ya sob sebelum mendaki.

Bisa cek disini sob kenapa matic dilarang.

Sekian sharing pengalaman kali ini, semoga bermanfaat.

Bintang Deska Seseorang yang suka berselancar di dunia digital dan belajar hal-hal yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *